MENCARI JEJAK BINTATOENG YANG HILANG

Seorang petani perempuan mengenakan caping dan kain batik sedang memanen bintatoeng atau kacang gude di ladang yang kering dan pecah-pecah. Ia berdiri di samping keranjang anyaman yang sudah terisi penuh dengan hasil panen.

Seorang petani perempuan mengenakan caping dan kain batik sedang memanen bintatoeng atau kacang gude di ladang yang kering dan pecah-pecah. Ia berdiri di samping keranjang anyaman yang sudah terisi penuh dengan hasil panen.

Matahari Bangkala masih sama. Terik dan menyengat. Tanah Jeneponto selalu punya cerita yang serupa. Di musim kemarau, tanahnya retak, debu beterbangan, dan angin kering yang menyapu pipi. Saat penghujan sekalipun, air tetaplah langka.

Menjelang ramadhan, saya pulang ke Kampung Talasa menengok pusara Mama, Nenek, dan Kakek. Di sana, ingatan saya langsung terbang ke masa kecil. Masa di mana meja makan kami selalu punya cerita dari ladang sendiri.

Dulu, di kebun atau di sisi pematang, ada pohon yang sangat setia. Batangnya berkayu. Tingginya bisa melampaui kepala orang dewasa. Kami memanggilnya Bintatoeng. Orang luar mengenalnya sebagai kacang gude.

Bagi saya, Bintatoeng adalah keajaiban. Ia adalah tanaman paling tangguh di dunia. Bangkala adalah tanah yang sulit air. Namun, Bintatoeng tidak pernah mengeluh. Akarnya menghujam jauh ke dalam bumi. Ia mencari air di tempat yang tidak bisa dijangkau tanaman lain.

Ia tidak butuh disiram setiap hari. Ia tidak butuh kemanjaan. Justru di tanah yang gersang dan sulit air, Bintatoeng menunjukkan jati dirinya. Ia adalah tanaman yang tahu diri. Ia mengambil sedikit dari alam, tapi memberi sangat banyak bagi kita.

Kandungan gizinya pun bukan main. Bintatoeng adalah gudang protein. Bagi kita di kampung, kacang ini adalah pengganti daging yang paling hebat. Ia mengandung banyak kalsium untuk tulang dan zat besi agar kita tidak cepat lelah saat bekerja di ladang. Di dalam butiran kecilnya, tersimpan energi besar yang membuat badan tetap kuat meski cuaca sedang panas-panasnya.

Saat jagung mulai layu, Bintatoeng tetap hijau. Saat rumput menguning, ia justru mulai mengeluarkan polong. Ia tidak butuh pupuk kimia. Ia tidak butuh perawatan mahal. Ia justru memberi makan pada tanah. Akarnya menyerap nitrogen dari udara. Ia menyuburkan bumi yang ia pijak.

Saya masih ingat rupa buahnya. Polongnya hijau. Kulitnya berbulu halus. Mama sering memetiknya saat masih muda. Namun, lebih sering kami membiarkannya kering di pohon.

Bintatoeng kering adalah tabungan. Ia bisa disimpan di dalam karung selama setahun. Tidak akan busuk. Tidak perlu kulkas. Ia adalah asuransi perut kami saat musim sulit tiba. Seharusnya, tanaman ini menjadi ciri khas kita. Menjadi identitas bahwa orang Bangkala bisa tetap berdaya di tengah keterbatasan air.

Cara memasaknya butuh kesabaran. Mama akan merebusnya sejak pagi di atas tungku kayu bakar. Butuh waktu lama sampai bijinya yang keras menjadi empuk. Tapi hasilnya sepadan. Teksturnya menjadi masir. Lembut dan gurih.

Mama akan memetik daun kelor. Masakan ini sangat sederhana. Tanpa bumbu rumit. Hanya air, garam, daun kemangi, sedikit penyedap, dan kasih sayang. Rasanya? Luar biasa. Paduan protein tinggi dari Bintatoeng dan vitamin dari kelor adalah kemewahan yang kami punya.

Namun, di balik setiap suapan sayur itu, ada bayangan dua sosok wanita hebat yang kini telah tiada. Nenek dan Mama. Merekalah yang mengajarkan saya arti kesabaran melalui Bintatoeng. Saya ingat tangan legam Nenek yang terampil memipil kacang kering. Saya ingat peluh Mama di depan tungku yang panas demi memastikan biji-biji keras itu berubah menjadi lembut.

Bagi saya, Bintatoeng bukan sekadar masakan. Ia adalah wujud kasih sayang mereka. Nenek dan Mama telah pergi mendahului, meninggalkan rasa rindu yang sering kali hanya bisa saya obati lewat ingatan tentang sayur bening ini. Setiap kali saya membayangkan aroma Bintatoeng, saya merasa mereka sedang hadir kembali di dapur tua itu.

Tapi kemarin, saya bertanya ke tetangga di kampung. Saya mencari-cari sosok pohon berkayu itu. Hasilnya nihil. Di lahan-lahan yang dulu rimbun, kini ditanami tanaman lain. Tanaman yang lebih populer. Tanaman yang lebih laku di pasar.

Bintatoeng pelan-pelan menghilang dari kebun. Ia mulai dilupakan oleh orang kampung sendiri. Padahal ia adalah bagian dari identitas kami. Ia adalah simbol ketangguhan orang kampung.

Mungkin orang sekarang lebih suka yang praktis. Membeli sayur di pasar lebih cepat daripada merebus Bintatoeng berjam-jam. Tapi ada yang hilang di sana. Ada gizi yang terbuang. Ada kearifan lokal yang terkubur. Dan bagi saya, ada jejak Nenek dan Mama yang ikut memudar.

Bintatoeng bukan sekadar kacang. Ia adalah guru tentang cara bertahan hidup. Tentang cara tetap memberi di tengah kekurangan air. Tentang cara menyimpan cadangan untuk masa depan.

Saya pulang dengan rasa rindu yang belum tuntas. Rindu pada aroma asap tungku. Rindu pada gurihnya biji kacang yang masir. Dan rindu pada dua wanita yang telah membesarkan saya dengan ketulusan sepanci sayur Bintatoeng.

Mencari jejak Bintatoeng sekarang memang sulit. Namun, rasanya akan selalu tertinggal di lidah dan hati saya. Sebuah memori tentang tanaman yang memeluk tanah kering kami dengan sangat erat, seerat pelukan Nenek dan Mama yang selalu saya rindukan.[]

Daeng Maliq, lahir dan bertumbuh di kampung Talasa. Saat ini, mengasuh Yayasan Cita Gapura Maradeka.

Similar Posts

  • PELUH DAN KELUH YANG MEMBAUR DI KALIBORO’

    Masih gelap ketika kami berjalan ke sumur. Dini hari di kampung bukan waktu untuk bermalas. Itu waktu untuk menunggu air. Kaliboro’ itu satu dari sedikit sumber yang ada. Sumur sedalam dua meter yang digali orang kampung untuk menampung air yang merembes dari celah akar pohon besar di atasnya. Airnya tidak pernah berlimpah. Kadang ia seperti…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *