PELUH DAN KELUH YANG MEMBAUR DI KALIBORO’

Masih gelap ketika kami berjalan ke sumur. Dini hari di kampung bukan waktu untuk bermalas. Itu waktu untuk menunggu air. Kaliboro’ itu satu dari sedikit sumber yang ada. Sumur sedalam dua meter yang digali orang kampung untuk menampung air yang merembes dari celah akar pohon besar di atasnya. Airnya tidak pernah berlimpah. Kadang ia seperti lelah. Menetes pelan lalu berhenti. Kami menunggu sampai genangannya cukup untuk ditimba lagi.

Saya ingat barisan jerigen dan ember. Anak-anak, ibu-ibu, para kakek dan nenek berdiri dengan sabar. Tidak ada yang benar-benar tenang karena semua tahu air tidak cukup untuk semua orang sekaligus. Kadang kami harus berebut. Kadang kami memilih berbagi. Air yang sedikit itu juga harus dibagi dengan ternak. Kambing, kuda, kerbau, sapi, serta kawanan bebek dan ayam. Mereka menunggu dengan cara mereka sendiri. Tanaman di ladang juga haus. Jagung, bawang merah, dan sayur yang kami tanam butuh air agar bisa tumbuh. Agar bisa dimakan. Agar bisa dijual untuk menghidupi keluarga.

Sumur itu sering mengering sebelum hari benar-benar panas. Ketika air habis, kami hanya bisa menunggu. Menunggu tetes berikutnya. Menunggu sampai dasar sumur kembali menggenang. Di saat seperti itu, antrean terasa lebih panjang. Wajah-wajah lelah terlihat jelas. Semua orang membawa pulang air secukupnya. Tidak pernah lebih.

Saat saya kecil, jalanan kampung belum diaspal. Hanya deretan batu besar dan kasar. Mengangkut air pulang menjadi perjalanan yang berat. Ember di tangan terasa makin berat setiap langkah. Kadang kaki terpeleset di sela batu. Kadang kami harus berhenti untuk beristirahat. Air di dalam jerigen bergoyang pelan. Setiap tetes terasa berharga.

Kini jalanan sudah lebih baik. Aspal membuat perjalanan terasa lebih mudah. Motor bisa dipakai untuk mengangkut air. Jerigen disusun di belakang, diikat seadanya. Namun kemudahan itu tidak serta merta mengubah keadaan. Air yang diangkut tetap terbatas. Sumur yang sama masih menjadi tumpuan. Ketika airnya sedikit, motor pun hanya bisa membawa sedikit. Kami bisa lebih cepat pulang, tetapi tidak bisa membawa lebih banyak.

Almarhum nenek pernah bilang bahwa mengantre air sudah dilakoni sejak ia kecil. Dulu ia berjalan di jalan yang sama, dengan beban yang sama. Cerita itu seperti berulang dari generasi ke generasi. Air selalu menjadi persoalan. Sesuatu yang harus dicari, bukan sesuatu yang tersedia.

Perubahan iklim membuat semua terasa lebih sulit. Kemarau lebih panjang. Hujan datang tidak menentu. Tanah semakin kering. Sumur semakin cepat lelah. Warga harus menyesuaikan diri dengan keadaan yang tidak pasti. Air menjadi penentu banyak hal. Jika air ada, tanaman tumbuh. Jika air ada, ternak bisa hidup. Jika air ada, kami bisa menjalani hari dengan tenang. Jika tidak, semua terasa berat.

Saya sering mengingat subuh di pinggir sumur. Suara ember, suara napas, dan langkah kaki di atas batu. Ingatan itu tidak hilang meski jalanan kini sudah diaspal. Kampung tampak sedikit berubah, tetapi urusan air masih sama. Masih harus ditunggu. Masih harus diangkut. Masih harus dibagi.

Di kampung kami, air mengajarkan tentang sabar dan bertahan. Ia juga mengingatkan bahwa kebutuhan paling dasar belum sepenuhnya terpenuhi. Setiap tetes yang ditimba adalah usaha. Setiap jerigen yang diangkat adalah harapan agar hari bisa berjalan seperti biasa. Dan setiap dini hari, ketika orang-orang kembali mengantre, cerita lama itu terus berulang dalam bentuk yang sama.

Daeng Maliq, lahir dan bertumbuh di kampung Talasa. Saat ini, mengasuh Yayasan Cita Gapura Maradeka.

Similar Posts

  • MENCARI JEJAK BINTATOENG YANG HILANG

    Matahari Bangkala masih sama. Terik dan menyengat. Tanah Jeneponto selalu punya cerita yang serupa. Di musim kemarau, tanahnya retak, debu beterbangan, dan angin kering yang menyapu pipi. Saat penghujan sekalipun, air tetaplah langka. Menjelang ramadhan, saya pulang ke Kampung Talasa menengok pusara Mama, Nenek, dan Kakek. Di sana, ingatan saya langsung terbang ke masa kecil….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *